Menyampaikan informasi agar bisa menjadi pelita, Belajar dari teman linkungan masyarakat dan alam agar kita menjadi bijak ,
8.24.2012
8.24.2010
10 Makanan Ini Tingkatkan Metabolisme Tubuh
By Petti Lubis, Harriska Farida Adiati - Senin, 23 Agustus
VIVAnews - Salah satu penyebab gagalnya program diet penurunan berat badan adalah proses metabolisme yang lambat. Di samping konsumsi makanan tertentu, berolahraga teratur juga perlu untuk menstimulasi metabolisme agar lemak tubuh terbakar dengan mudah.
Berikut daftar makanan sehat dan alami yang bermanfaat untuk merangsang metabolisme, sehingga berat badan menyusut lebih cepat.
1. Makanan pedas
Saus salsa, cabai, lada, atau makanan pedas lain akan membakar 20 persen lebih banyak lemak. Tambahkan makanan pelengkap tersebut ke dalam makanan Anda, tetapi jangan terlalu banyak karena bisa menimbulkan gangguan perut.
2. Buah berry
Buah berry adalah sumber penting zat antioksidan tanpa kalori. Rasa manis dalam buah ini akan memuaskan kebutuhan Anda akan rasa manis, sekaligus membantu Anda menurunkan berat badan.
3. Ikan
Ikan, terutama ikan salmon, mengandung asam lemak Omega 3. Ikan akan memperlancar metabolisme dan membakar lebih banyak lemak, sehingga metabolisme akan lebih aktif dan kulit tampak lebih segar.
4. Seledri
Seledri merupakan sayuran tanpa kalori yang membantu Anda menurunkan berat badan lebih cepat, mudah, dan lebih baik. Bentuk apapun dari akar atau batang seledri, baik disantap mentah atau sebagai campuran salad dan sup akan membuat Anda terkejut saat menimbang badan.
5. Jeruk lemon
Pada pagi hari, satu sendok teh perasan lemon segar dicampur ke dalam satu gelas air akan meredam rasa lapar. Campuran air dan lemon ini juga akan memberikan energi bagi tubuh dan membantu membakar lemak. Jangan tambahkan gula, bila dirasa terlalu asam, tambahkan saja madu.
6. Air dingin
Makin dingin, makin baik. Air putih sangat ideal untuk memperhalus fungsi-fungsi tubuh, bermanfaat saat kulit mengalami dehidrasi, dan berperan dalam regenerasi sel serta menghilangkan racun. Air dingin akan memperlancar metabolisme hingga 30 persen dan lemak akan terbakar dengan mudah. Pilih air putih dengan es batu. Temperatur ideal adalah 5 hingga 8 derajat Celcius.
7. Gandum
Gandum secara bertahap mengeluarkan glikosa ke dalam aliran darah dan proses metabolisme tubuh akan lebih mudah memproduksi gula dan lemak. Usahakan mengonsumsi satu mangkuk penuh gandum (oat) plus buah berry pada pagi hari. Anda akan puas dengan hasilnya.
8. Kubis dan sayuran sejenisnya
Kubis dan makanan 'satu kerabat', seperti brokoli dan bunga kol akan mempengaruhi proses metabolisme dan membakar lebih banyak kalori dibanding kondisi biasa. Sayur-sayuran tersebut juga kaya vitamin dan mineral penting yang diperlukan saat menjalani diet.
9. Satu mangkuk sup per hari
Sebuah studi belakangan ini menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi satu mangkuk sup sebelum menyantap makanan utama (makan siang atau makan malam) menurunkan berat badan lebih mudah dibanding mereka yang sama sekali tidak mengonsumsi sup. Pilih sup sayuran seperti kubis, bunga kol, atau kubis.
10. Satu apel sehari
Satu buah apel atau lebih dalam satu hari akan membantu menekan rasa lapar lebih lama. Manfaat lain, tubuh akan membakar lebih banyak kalori dan mempermudah penyusutan berat badan.
8.05.2010
6.13.2010
GRATISKAN JUALAN ANDA (!)
Jumat pukul 11:06
“Cara jualan kamu kuno !” Demikian kata seorang pengusaha senior kepada saya ketika kami sedang berbuka puasa bersama, bulan Ramadan lalu. Saya tergagap. Wah, baru kali ini ada yang mengatakan demikian tentang model bisnis saya. Tapi berhubung beliau jauh … jauh … jauh … lebih berpengalaman dibanding saya, dengan usaha yang skala nya ratusan kali lipat usaha saya, saya tidak punya pilihan lain selain mendengar kritikan beliau. Saya menahan nafas menunggu kalimat beliau berikutnya.
Beliau menambahkan, “Kalau kamu bisnis IT, nyuruh pelanggan beli produk, itu bisnis jaman dulu”. Saya mulai paham. Karena beberapa pelanggan saya ada yang memang menggunakan pola pembayaran bulanan atau sewa. Tidak mau kalah saya langsung berkomentar: “Kalau sewa atau bayar biaya bulanan bagaimana Pak?” Beliau menjawab: “Itu lebih baik. Tapi itu sekarang juga sudah kuno!” Nah ini bikin saya kaget lagi. “Yang gak kuno gimana dong Pak?”, saya makin penasaran. “Yang gak kuno itu kalau pelanggan gak usah bayar !.” Nyaris saya lompat dari kursi. Gratis? Musti bayar gaji karyawan dari mana? Beliau hanya tertawa-tawa, membuat saya makin penasaran.
Seolah “Law of Attraction” bekerja keras untuk saya. Dua minggu kemudian tanpa sengaja saya nemu buku baru karya salah satu penulis favorit saya Chris Anderson, judulnya: “Free: The future of radical price”. Ya, pengusaha senior tadi ternyata benar! Masa depan ternyata ada pada harga nol, alias gratis. Pelanggan gak usah bayar.
Semua Serba Gratis
Tidak dapat disangkal, virus gratis memang sudah menjalar kemana-mana. Kita sekarang bisa dengan mudah mengakses internet di mall-mall melalui infrastruktur hot-spot gratis. Saya menggunakan laptop dengan OS Linux Ubuntu yang dibagi-bagikan gratis oleh Canonical, mengetik dengan word-processor OpenOffice yang disediakan gratis oleh Sun Microsystem, menggunakan browser Firefox yang gratis, menggunakan layanan email gratis dari Google, chatting gratis melalui Yahoo Messenger dan mengakses jaringan seperti Facebook secara gratis. Malah kalau online nya di bandara, kopi yang menemani saya online pun gratis, komplimen dari lounge yang disponsori penerbit kartu kredit yg saya pakai. Chris Anderson malah mengetik seluruh isi buku nya melalui aplikasi Google Docs, word processing gratis yang disediakan online oleh Google.
Tunggu … kenapa yang gratis hanya layanan-layanan yang terkait dengan internet? Oh tidak. Diluar itu Anda juga dengan mudah menemukan produk atau layanan gratis atau sangat murah. Memang tidak semua sudah tersedia di Negara kita. Beberapa tahun lalu, kalau ingin pasang antenna parabola di rumah, kita harus membayar cukup mahal. Sekarang antenna parabola “dipinjamkan” oleh provider layanan siaran TV melalui satelit. Modem bisa kita peroleh gratis jika kita berlangganan broadband. Hampir semua penerbit kartu kredit sudah menggratiskan iuran tahunan-nya. Low cost airlines telah merevolusi dan mempelopori penjualan tiket pesawat terbang sangat murah atau bahkan gratis. Di Negara-negara maju, daftar produk gratis ini semakin banyak. Anda dapat memiliki handphone dengan gratis, tentu dengan kontrak berlangganan tertentu. Memiliki laptop gratis, dengan berlangganan akses broadband. Singkat kata semua ada versi gratis nya, bahkan mobil gratis pun ada. Kalau majalah gratis sudah sangat biasa, Di Tokyo, malah ada toko yang menyediakan 5 item gratis untuk setiap pengunjungnya, mulai dari lilin, mie instan, sampai krim wajah.
Makan Siang Gratis Memang (Pernah) Ada
Anda tentu pernah mendengar ungkapan “tidak ada makan siang gratis”. Ungkapan ini sebenarnya berasal dari jaman Cowboy di Amerika Serikat. Pada waktu itu banyak Saloon, tempat nongkrong orang Amerika jaman dulu, yang menyediakan makan siang gratis untuk menarik pengunjung. Makan siang nya memang benar-benar gratis. Tapi pengunjung harus bayar mahal untuk yang lain-lain, seperti minuman, permainan kasino, sewa kamar, dsb.
Bagi-bagi produk gratis juga awalnya dilakukan oleh King Gillette, pencipta silet cukur pertama di dunia. Jaman dahulu pria bercukur dengan pisau cukur lipat yang tidak praktis, harus sering di asah, dsb. Ide menggunakan pisau cukur super tipis yang tidak perlu diasah, tapi dibuang jika sudah tumpul, adalah ide baru yang awalnya sulit dipahami. Gillette pun membagikan secara gratis sebagai marketing gimmick produk lain, dengan harapan pengguna baru yang menyukai ide ini selanjutnya akan membeli. Misalnya bekerjasama dengan bank, pisau baru Gillette dijadikan bonus bagi pembuka rekening tabungan. Dan Gillette benar, lambat laun pisau cukur Gillette dikenal dan kemudian mendunia hingga hari ini.
Jell-O, dessert paling popular di Amerika juga awalnya sulit untuk dijual. Peter Cooper, penemu makanan dari gelatin ini kesulitan memperkenalkan produk baru nya. Baru setelah produk ini dipasarkan oleh genius pemasaran dan orator Francis Woodward, Jell-O menemukan tempatnya di pasar. Woodward bukan membagikan produk ini secara gratis. Namun mencetak dan membagikan buku resep gratis untuk memberi ide kepada calon pelanggan, bahwa Jell-O sangat praktis dan dapat disajikan dengan berbagai variasi. Woodward yang membeli lisensi Jell-O hanya seharga $450 sukses besar.
Dari Kelangkaan Menuju Keberlimpahan
Model gratis a la Saloon, Gillette dan Jell-O adalah model-model gratis abad lalu, yang hingga sekarang masih sering digunakan. Namun, abad 21 telah menciptakan model bisnis gratis baru. Model bisnis yang digerakkan oleh kemudahan dan teknologi.
Plastik pada awalnya dirancang sebagai produk eksklusif. Riset dan produksinya memerlukan biaya mahal. Plastik juga lebih kuat dan tahan lama disbanding kayu. Jadi sudah selayaknya produk dari plastic dijual mahal. Namun, kita lihat hari ini, plastic demikian berlimpah ada dimana-mana. Plastik pada akhirnya menjadi komoditas yang berlimpah dan murah.
Barang elektronik modern tumbuh pesat setelah transistor ditemukan. Pada awalnya transistor adalah barang langka yang mahal. Tahun 1961 harga 1 buah transistor adalah $ 10. Kurang dari 10 tahun harga nya sudah tinggal $1 sen. Dan hari ini, sebuah microchip yang setara dengan 2 milyar transistor hanya dijual $ 300, atau 0.000015 sen per transistor. Hal yang sama terjadi juga untuk kapasitas penyimpanan disk dan juga bandwidth, yang semakin lama semakin murah. Inilah yang kemudian memicu revolusi digital yang merubah cara pandang pengusaha dalam mencari revenue.
Ketika sebuah produk telah menjadi komoditi yang “terlalu murah untuk dihargai”, maka kita tidak lagi bisa mengandalkan harga produk sebagai sumber revenue kita. Harga sangat terkait dengan kelangkaan, sementara yang kita hadapi adalah keberlimpahan.
Gratis? Dari Mana Uangnya?
Menjalankan usaha memang tetap harus berorientasi pada profit, yang sumber nya adalah revenue dikurangi cost. Model bisnis gratis pada dasarnya melakukan kreatifitas pada sumber revenue, bukan menghilangkan revenue. Jika semula revenue semata dari harga jual, maka dengan prinsip keberlimpahan, kita coba mencari revenue dari sumber lain. Beberapa model bisnis yang ada adalah:
Subsidi Silang Langsung
Ini model generasi pertama. Revenue dari sumber lain memberikan subsidi silang untuk item yang sengaja dibuat lost. Misalnya, gratis handphone, tapi bayar talktime. Gratis antenna parabola, bayar biaya langganan. Gratis software, bayar hardware. Dsb. Termasuk model bisnis yang digunakan Canonical yang membagikan OS Ubuntu Linux secara gratis. Software nya memang gratis, tapi jika perusahaan kemudian butuh jasa konsultasi, training dan implementasi Ubuntu resmi dari Canonical, perusahaan tersebut harus membayar mahal.
Subsidi Pihak Ketiga
Ini model bisnis yang digunakan Radio, TV dan Majalah Gratis. Pelanggan gratis, tapi pemasang iklan bayar. Digunakan juga oleh penerbit kartu kredit yang menggratiskan iuran, tapi memberikan charge yang mahal ke merchant. Diskotik juga menjadi pelopor model ini melalui program “ladies night”. Gratis untuk pengunjung wanita, tapi pengunjung pria membayar.
Freemium
Ini model yang sering digunakan perusahaan konsultan dan teknologi informasi. Gratis untuk versi yang generic, tapi membayar untuk versi premium. Bisa juga divariasikan dengan modul. Untuk modul terbatas gratis, modul yang lebih lengkap bayar. Gratis untuk konsultasi awal, bayar untuk jasa konsultasi yang lebih lengkap. Gratis untuk overview seminar, bayar untuk training yang lebih lengkap.
Nonmonetary
Ini yang 100% gratis. Jasa yang diberikan sama sekali gratis. Imbalan yang diterima penyedia jasa adalah perhatian dan reputasi. Dan dengan reputasi yang semakin meningkat, dikenal dimana-mana, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendatangkan revenue. Musisi yang memberikan karya nya secara gratis dan memperoleh reputasi dan perhatian, dapat menghasilkan revenue dari konser-konser ataupun penjualan merchandise nya.
Sebelum Menggratiskan Jualan Anda
Oke … oke, mungkin kedengarannya masih menakutkan untuk menggratiskan begitu saja jualan Anda. Memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum Anda menggratiskan jualan Anda:
Pertama, Sesuaikan dengan model bisnis yg ada sekarang. Anda harus analisa baik-baik dari mana sumber revenue Anda. Secara umum menggratiskan jualan Anda dimaksudkan untuk memperbesar revenue, bukan mengurangi revenue. Kalau Anda jualan baju dan membagi-bagikan begitu saja produk terbaru Anda, sulit dibayangkan untuk mendapat revenue yang lebih besar. Tapi jika Anda member subsidi pada asesoris dan membagikan gratis sebagai gimmick untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak, jauh lebih masuk akal. Atau mungkin yang bisa digratiskan adalah catalog, newsletter atau buku kecil tentang bagaimana memanfaatkan produk Anda secara maksimal.
Kedua, gratis akan efektif jika sifatnya masal, melibatkan crowd yang besar. Karena dengan biaya yang sudah ditetapkan, maka semakin besar pelanggan terlibat, biaya per pelanggan akan semakin kecil hingga nyaris nol. Membagikan software gratis kepada 100 orang atau 1 juta orang akan sangat berbeda. Maka Canonical dengan Ubuntu nya rajin mengirim CD gratis. Dalam ekonomi digital eksistensi produk kita di pasar akan sangat tergantung pada atensi dan reputasi. Gratis adalah senjata untuk mencapai dua hal tersebut.
Saya menutup buka bersama dengan pengusaha senior yang saya ceritakan di depan dengan perasaan puas. Beliau menceritakan dengan detil “resep rahasia” menggratiskan layanan IT beliau, dan tetap memperoleh revenue dari tempat lain. Sebelum kami berpisah, beliau mengucapkan kalimat: “Oh ya, kalau semua sudah gratis, gratis pun jadi kuno. Harusnya pelanggan gak usah bayar, malah dibayar!” Waduh …. (FR)
SUMBER : http://fauzirachmanto.blogspot.com/2009/10/gratiskan-jualan-anda.html
9.21.2009
Boomers: What to ask on a date…
Boomers: What to ask on a date…
By Dr. Gilda Carle, Ph.D.
When you’re single and at midlife, there are those moments when you may believe the lyrics of Reba McIntyre’s song, “Love Is A Hard, Hard Road.” But much of the heartache that could crop up later in a romance might be avoided if only people asked the right questions on their first few dates. Insightful questions at the beginning of a romance can lead to lasting love later. And just because you’ve been at the dating game for a while now doesn’t mean you know all the tricks.So let me help: To ask the right dating questions, change your mindset to that of a journalist. Journalists gather information, listen intently, remember key facts, and note behavioral patterns. The most effective journalists follow the advice of this Gilda-Gram: “Understand the equation of two ears to one mouth.” What this means is to really get to know someone, listen twice as much as you speak. Down the road, there will always be time to reveal more about yourself. At the very early stages, however, your objectives should be to assess compatibility and determine if you want to go further.
So on your first few dates, favor your observational skills over your making-conversation skills (well-honed as they may be from years of practice). Observation involves walking the tightrope of asking questions without sounding like you’re probing your date’s personnel file. Here, what to ask and what not to ask:
Question #1
Do ask: “What were the good things about your last relationship?”
Do not ask: “What went wrong?”
By asking the first version, you guide your date to pinpoint his or her learning and growth from the past. If your date admits that he or she blossomed, despite the relationship’s derailment, there is a chance that you will be able to grow together yourselves. On the other hand, if your date can’t fathom anything positive about his or her past, this person lacks awareness about the growth factors of life. Regina, 53, asked the “What went wrong?” question and ended up hearing a whole night of “poor me” stories from Bob, 61. This was a real turn-off, and Regina ended their possible future at once.
Question #2
Do ask: “What is your favorite time of day, month of year, climate, and activity?”
Do not ask: “So do you play tennis?” or “Are you a night person?”
Such close-ended questions require just a one-word answer and close down communication at once. Open-ended questions do a much better job of getting the conversation going. Moreover, these might prompt your date to respond with whatever he or she thinks will make the best impression. Pam, 48, asked Pete, 51, if he liked to ride horses. Wanting to seem like a macho cowboy, he said, “Of course!” Little did he expect her to set up a group activity with a few friends at a dude ranch. She discovered that Pete was actually terrified of the four-legged creatures. Pam’s assessment of the guy was that he was full of manure—and she chose not to see him again.
Question #3
Do ask: “What was one of your biggest work challenges, and how did you get through it?”
Do not ask: “Why did you leave your last job?” because you’re likely to wind up wading through all kinds of hindsight and rationalizations.
Asking about a big work challenge will give your date the opportunity to shine, which builds confidence. If your date can pump up his or her skills for you, this person is probably successful in life. Successful people have take-charge personalities that can navigate snarky waters and difficult situations in general. Consider the case of Paul, 58, and Marcia, 59. Paul asked Marcia this question and she spoke about how she managed and supported her staff through a difficult ownership transition that involved a couple of rounds of layoffs. From what Marcia shared, it was clear to Paul that she didn’t get swept up in the drama, but was able to balance the personal and professional challenges of the situation. That was very impressive to him, and he concluded that if Marcia was an accomplished navigator during such challenging circumstances, she would probably be a very level-headed, non-game-playing person to forge a relationship with (and he was right!).
Question #4
Do ask: “Who are your favorite people in your life?”
Do not ask: “Do you like X political figure, or Y religion?” unless you want to engage in rhetorical combat.
When you ask about important people in your date’s life, the response will reflect your date’s true values. Find out about your date's favorite people and why they are being held in such high esteem. Jane, 52, asked this question of David, also 52, and found out that he treasured the friendship of his college pal Michael, who changed careers from finance to social work. David admired his friend’s selflessness and ability to reinvent himself at midlife. That conversation revealed quite a lot of very positive attributes to Jane.
Talking about politics, religion, or any other potentially polarizing topic is, however, best avoided early on. I know, I know: Some single people at midlife consider this kind of question an acid test — either this person will click with me on the tough stuff or not — but I say to hold off. Give yourself and your date a chance to get to know one another first, let the first-date nerves wear off, and then tackle the difficult topics.
Question #5
Do ask: “If you were to describe yourself as an animal, which one would you choose?”
Do not ask: “What is your philosophy of life?” because you’ll only hear what your date wants you to, like all the Miss Americas who vow they want “world peace.”
I have asked Question #5 in workshops for business executives and single people alike. It’s shocking how much information the response to this question reveals. One man described himself as a bear that hibernates during the winter. He was a withdrawn, very low-energy personality—and quite frankly, not much fun to be around. By contrast, a woman once replied that she liked to think of herself as a gazelle—and indeed, she did have a spunky, sparky, and energetic personality which was energizing to be around. A person’s choice of animal says a great deal about who that person is, without the need for a lengthy resume. Now, the question about philosophy — while it may sound sophisticated and likely to yield interesting insights — really will only get a superficial answer in most cases. No matter how much experience a person may have under his or her belt, encapsulating one’s knowledge on a first date is one very tough challenge!
If boomers ask the right questions at the first blush of romantic possibility, their next time around could avoid the relationship issues they attracted in the past. Have fun with these questions! They could offer you greater wisdom than you ever had.
Relationship expert Dr. Gilda Carle, Ph.D., has a private practice and is an associate professor at Mercy College in New York. Her best-selling books include 99 Prescriptions for Fidelity and How to Win When Your Mate Cheats. Please visit her website or send your relationship questions to her at DrGilda@DrGilda.com.
what a wonderful of Love
RADIO
Walaoe poen Hidoep dalam hajat itoe tidak lah moedah namoen djangan lah hidoep diboeat soesah
Sang Empoenya Boekoe Biroe agar khalayak dipermakloemkan :)
Mesin Pencari Web & Site
Labels
- BISNIS (1)
- BURUH TANI NELAYAN (1)
- Catatan Pribadi Koe (4)
- CIRCLE CROP (9)
- CLIPS MUSIC (6)
- DOA-doa (5)
- informasi (6)
- Kesehatan (1)
- KLIPING (7)
- KLIPPING (2)
- KLIPPING SEJARAH (1)
- KUMPULAN CERITA (1)
- Lirik Lagu (5)
- Penawaran BISNIS (3)
- PENGEMBARAAN (5)
- Pilihan Tempat Wisata (1)
- RAKYAT KECIL KOE (3)
- Resep Aneka Makanan (1)
- TIPS (6)
- TV (2)
- YANG kusuka (2)
Je t'aime la Mer
BoeKoeBiroe Stats
Chateau
Mp3Raid music code
YANG PERLU DILIHAT
- ABOUT WIFI
- BETERNAK DOMBA
- buah-buahan sehat
- CARA & TEHNIK BUAT BLOG
- DEPTAN
- GEO_POL1
- geo_pol2
- GEO_POL3
- http:///http://www.ardi.web.id/
- http://deboger.blogspot.com/2009/02/kumpulan-hadits-qudsi.html
- http://ekosulistyo.cahbag.us/
- http://imagejakarta.blog.co.uk/2007/
- JURNAL POLITIK
- s
- styrofoam
- TV STREAMING
- WALHI
